Tanya Hatimu
Posted by: Khoirul Huda Posted date: 17.59 / comment : 0
“Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu wahai Wabishah,
Nabi mengulangnya tiga kali. Kebaikan adalah yang membuat jiwa dan hati tenang.
Dosa adalah yang terasa tidak karuan dalam jiwa dan bimbang dalam dada.” (HR.
Ahmad)
“Istafti qolbak, wa in aftauka wa in aftauka. Mintalaha saran pada hatimu,
meski orang telah memberi saran kepadamu, meski orang telah memberi saran
kepadamu, meski orang telah memberi saran kepadamu.”(HR. Ahmad bin Hanbal dari
Wabishah)
Istafti qolbak adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah keadaan,
dimana seseorang sesungguhnya telah mengenal halal dan haram. Akan tetapi ada
dorongan yang kuat dari jiwanya untuk mengerjakan yang haram. Pada saat itu,
adalah waktu yang tepat untuk meminta fatwa kepada hati kita sendiri.
Fatwa yang dimaksud bukan lagi yang menjelaskan mana yang halal dan mana
yang haram, dengan dalil-dalilnya. Fatwa itu adalah fatwa yang bersifat perang
batindi dalam jiwa seseorang. Sebab sejahat-jahatnya manusia, sesungguhnya di
lubuk hatinya yang terdalam terdapat kebaikan. Namun terkadang kebaikan itu
tertutupi oleh nafsu, syahwat dan amarah angkara murka.
Terkadang suara hati harus dikedepankan dari saran kebanyakan manusia,
karena di dalam jiwa terdalamnya terdapat kebaikan. Bahkan seorang atheis yang
tidak percaya adanya tuhan, di saat terancam, akan berdo’a dan tiba-tiba saat
itu mereka punya tuhan.
Itulah hati nurani yang paling dalam, yang kadang lenyap ditelan nafsu
angkara murka. Pada saat seseorang mempunyai ilmu dan bisa membedakan halal dan
haram, tapi masih melanggar dan menganggap sepele hukum Allah, kita katakan
kepadanya,”Mari, kita ajak bicara hati nuranimu”.
Suara hati nurani sejatinya merupakan bisikan ketakwaan dan kehormatan
al-wara’. Orang yang di dalam hatinya muncul rasa pengingkaran terhadap dosa
adalah orang yang di lapangkan oleh Allah SWT. Sedangkan masukan orang lain
sering kali berdasarkan dugaan semata.
Namun, jika fatwa seseorang didukung dengan dalil syar’i yang kuat, maka
seorang muslim hendaknya mengikuti fatwa tersebut, meskipun dia berat
menerimanya. Dan ingatlah “DI RELUNG HATIMU, TERDAPAT KEIMANAN YANG TERTANAM.”
(Mutiara Amaly vol 119 dengan beberapa perubahan)
About Khoirul Huda
This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Popular Posts
-
Seberapa tinggi mimpi anda untuk sukses?? Seberapa besar keinginan anda untuk mewujudkan impian anda? Dan seberapa cepat anda bisa be...
-
Tujuan pangeran Zhu Di mengutus Cheng Ho berlayar ke Samudra Hindia adalah menyusun pedoman diplomatiknya, yaitu mencapai pemufakatan d...
-
Kita manusia biasa yang memiliki rasa cinta, tiada yang salah karena cinta adalah anugrah. Justru citalah yang memanusiakan manusia, me...
-
Abdullah i bn ul Mubarok pernah berkata : رَاَيْتُ الذُنُوْبَ تُمِيْتُ القُلُوْبَ وَقَدْ يُوْرِثُ الذُّلَّ إِدْماَنُهاَ وَ تَرْكُ...


Tidak ada komentar: