Ukhty Sholihah
Labels
- Aqidah Watsithiyah
- Cerita Hikmah
- Konspirasi
- Lophe
- Motivasi
- Percikan Blog
- Remaja
- Renungan
- Teknologi
- Tokoh
- Ukhty Sholihah
Hari ini teriakan-teriakan semakin terdengar
keras. Disusul dengan suara merdu remaja putri yang mengundang birahi setiap
lelaki. Semakin hebat perkembangan teknologi semakin hebat pula perkembangan
kemaksiatan kepada Ilahi. Memandang ke setiap penjuru arah selalu terlihat
lenggokan badan seksi yang menaikkan nafsu seks yang hina jika tidak di
tempatkan pada tempatnya. Handphone, Televisi dan jejaring social lainnya sudah banyak dihiasai dengan
kecantikan-kecantikan model yang merusak moral umat manusia.
Ukhti Muslimah... tolonglah kami... kami hidup
dengan di kelilingi rangsangan seks yang senantiasa mengarah kepada perzinahan.
Apa engkau tidak kasihan kepada kami..?? kau buka pintu rumahmu lebar-lebar
setiap waktu dengan memperlihatkan setiap lenggokan dan bentuk auratmu yang
indah dan berharga dengan jelas kepada setiap lelaki. Keindahan itu Bagaikan mutiara putih, lalu siapakah
lelaki yang tidak tergoda untuk
mengambil mutiara jika ia melihatnya??
Begitu indah pemandangan cuma-cuma yang kau
berikan kepada kami... ketika kami berada di depan pintu, kau tarik tangan dan
hati kami masuk ke dalamnya dalam permainan cinta dan alasan persahabatan. Kau
biarkan kami terlena dengan keindahan dan keanggunanmu..
Sehingga suatu ketika engkau kecurian
kehormatanmu, engkau manangis histeris. Engkau salahkan kami seakan-akan kami
maling yang sangat jahat dan tidak pernah berbuat kebaikan sedikitpun. Kau maki
kami, kau umumkan hal itu kesetiap orang bahwa kami adalah lelaki yang bejat
dan tak tahu diri. Kau sebarkan pula bahwa kami bukanlah termasuk orang-orang
beriman dan bukan orang baik-baik. Hingga tiada yang tersisa dari kami kecuali
hanya kehinaan semata di sisa usia kami.
Ukhti muslimah.. sebelum hal itu terjadi tutuplah
pintu rumahmu dari pandangan setiap lelaki yang selalu dilingkupi godaan
syahwat setiap waktu. Jangan kau tarik dan rangsang kami ke dalam seks bebas
yang akhirnya akan menghilangkan kehormatanmu.
Setelah itu, kami berubah menjadi kambing hitam atas semua kesalahan yang
terjadi.
Ukhti muslimah...
dari dalam lubuk hati nurani kami mendengar teriakan-teriakan yang tiada
henti. Mereka meminta tolong setiap saat tanpa melihat waktu... “Tolonglah
kami... jangan kau lepas kami yang seharusnya menjadi pakaian dan penghias
kehidupanmu... ingatlah kepada Allah.. apa kamu tidak takut akan adzab kubur?? Apa
kamu tidak takut akan datangnya hari penyesalan?? dimana dinampakkan semua
amal-amal yang telah kamu perbuat?? Dan apa
kamu lupa tahu bahwa Allah Maha Melihat??”
Dalam setiap detik, hati kami selalu berperang.
Yang satu mengajak kepada nafsu yang senantiasa mengelilingi kehidupan kami dan
dihiasi dengan keindahan-keindahan yang menawan hati. Sehingga sangat sulit
bagi setiap lelaki untuk berpaling hati. Yang satunya lagi adalah teriakan sisa
keimanan kami, yang senantiasa meminta tolong tanpa henti agar ia tidak lepas
dari diri kami.
Ukhti muslimah.. kami sangat berharap kepadamu
untuk menolong kami.. kami bukan Nabi Yusuf yang tahan akan godaan. Kami hanya
manusia dengan membawa sisa-sisa keimanan diujung tombaknya. Ukhti
Muslimah... jagalah kehormatanmu!!
Jagalah harga dirimu!! Dan tutuplah auratmu!! Karna hanya itu yang kami minta
untuk menyelamatan teriakan tanpa henti di dalam hati.
Saya kemarin berpacaran dengan teman SMP saya.
Waktu SMP dia pernah menyatakan cintanya kepada saya, tetapi saat itu saya
menolaknya. Sekarang, saya dan dia sama-sama sudah kuliah disatu kampus. Kami
mulai dekat kembali dan berpacaran.
Dia pernah mengatakan mau berhubungan intim
pertama kalinya dengan saya. Dia bilang,”Umurku 20 tahun, tapi aku belum pernah
ngerasain ML, aku pengen pertama ngelakuinnya sama kamu. Temen-temen hampir
semua udah pernah ngelakuin. Aku pengen ngerasain pertama sama kamu.”
Lalu saya jawab,”Nggak mau, ini buat suami aku
nantinya.”
Terus dia jawab lagi,”Apa kamu gak percaya, kalo
nantinya aku itu bakal jadi suami kamu??”
Saya bilang,”Kita belum tahu kedepannya hubungan
kita jadi atau enggak, bisa aja kan tiba-tiba putus??”
Dia berani meminta hubungan intim di awal pacaran.
Minggu pertama pacaran. Disitu saya menolak habis-habisan.
Suatu ketika, saya pergi nonton Midnight sama
dia. Pas di Bioskop dia ngajakin saya ke Hotel, tetapi saya nggak mau.
Pulangnya, karena sudah malam, sekitar jam 12 malam, dia meminta untuk
mengobrol di atas balkon rumah saya. Nah, dari situ awal mulanya saya
memberikan kehormatan saya.
Entah setan mana yang merasuki saya, setelah
kejadian itu saya langsung menangis. Kemudian dia bilang janji gak akan
ninggalin saya. Karena di awal pacaran dia bilang gak ada kata putus. Saya
percaya dengan ucapannya.
Tiga kali saya melakukan perzinahan itu. Keempat
kalinya saya menolak, dan dia langsung marah besar. Saya tanya,”Kamu serius gak
sihh sama hubungan ini??”
Dia jawab,”Ribet banget sih lu, tinggal jalanin
doank..”
Saya mulai menyadari bahwa semua ucapan yang
pernah dia ucapkan itu bohong. Katanya mau serius. Katanya gak ada kata putus.
Katanya pacaran gak mau kayak anak kecil yang sebentar-sebentar putus.
Dia marah dan ngambek, saya didiemin tiga sampai
empat hari karena tidak saya kasih. Saya telepon gak diangkat, SMS dan BBM gak
dibales. Sekalinya dibaca, gak dibales ama dia.
Sebenarnya aku tidak mau putus dengannya. Tetapi
sikap dia mulai berubah, semakin dingin dan cuek, tidak care sama saya. Dan
yang menurut saya lebih menyakitkan, dia tidak mau memperkenalkan saya dengan
orang tuanya, main ke rumahnya saja tidak boleh.
Saya mulai gak kuat ngadepin dia. Dan akhirnya
saya putuskan dia, setelah dia berhasil mengambil keperawanan saya.
Mungkin teman-teman menganggap tulisan ini
berlebihan atau mungkin mendramatisir. Tapi perlu diketahui, hal seperti ini
sudah banyak terjadi dan ini merupakn kisah nyata yang dikisahkan oleh seorang
perempuan pada sebuah tweetnya.
Seringkali suatu kenyataan dinyatakan mitos,
sampai kenyataan itu menimpa yang meragukannya. Bila yang menimpa itu reversible,
mungkin masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.
Nah, bagaimana jika yang menimpa adalah sesuatu
yang tidak bisa kembali lagi, irreversible?? Tidak terganti, bayangkan
mana yang lebih mulia?? Menjaga diri agar tidak terjadi? Atau membiarkannya
saja hingga terjadi dan kita akan menyesal?? Dan saya yakin, anda sudah punya
jawabannya sendiri. (dirilis dari kisah nyata dalam tweetnya)
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
Comments
Labels
- Aqidah Watsithiyah
- Cerita Hikmah
- Konspirasi
- Lophe
- Motivasi
- Percikan Blog
- Remaja
- Renungan
- Teknologi
- Tokoh
- Ukhty Sholihah


