“Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu wahai Wabishah,
Nabi mengulangnya tiga kali. Kebaikan adalah yang membuat jiwa dan hati tenang.
Dosa adalah yang terasa tidak karuan dalam jiwa dan bimbang dalam dada.” (HR.
Ahmad)
“Istafti qolbak, wa in aftauka wa in aftauka. Mintalaha saran pada hatimu,
meski orang telah memberi saran kepadamu, meski orang telah memberi saran
kepadamu, meski orang telah memberi saran kepadamu.”(HR. Ahmad bin Hanbal dari
Wabishah)
Istafti qolbak adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah keadaan,
dimana seseorang sesungguhnya telah mengenal halal dan haram. Akan tetapi ada
dorongan yang kuat dari jiwanya untuk mengerjakan yang haram. Pada saat itu,
adalah waktu yang tepat untuk meminta fatwa kepada hati kita sendiri.
Fatwa yang dimaksud bukan lagi yang menjelaskan mana yang halal dan mana
yang haram, dengan dalil-dalilnya. Fatwa itu adalah fatwa yang bersifat perang
batindi dalam jiwa seseorang. Sebab sejahat-jahatnya manusia, sesungguhnya di
lubuk hatinya yang terdalam terdapat kebaikan. Namun terkadang kebaikan itu
tertutupi oleh nafsu, syahwat dan amarah angkara murka.
Terkadang suara hati harus dikedepankan dari saran kebanyakan manusia,
karena di dalam jiwa terdalamnya terdapat kebaikan. Bahkan seorang atheis yang
tidak percaya adanya tuhan, di saat terancam, akan berdo’a dan tiba-tiba saat
itu mereka punya tuhan.
Itulah hati nurani yang paling dalam, yang kadang lenyap ditelan nafsu
angkara murka. Pada saat seseorang mempunyai ilmu dan bisa membedakan halal dan
haram, tapi masih melanggar dan menganggap sepele hukum Allah, kita katakan
kepadanya,”Mari, kita ajak bicara hati nuranimu”.
Suara hati nurani sejatinya merupakan bisikan ketakwaan dan kehormatan
al-wara’. Orang yang di dalam hatinya muncul rasa pengingkaran terhadap dosa
adalah orang yang di lapangkan oleh Allah SWT. Sedangkan masukan orang lain
sering kali berdasarkan dugaan semata.
Namun, jika fatwa seseorang didukung dengan dalil syar’i yang kuat, maka
seorang muslim hendaknya mengikuti fatwa tersebut, meskipun dia berat
menerimanya. Dan ingatlah “DI RELUNG HATIMU, TERDAPAT KEIMANAN YANG TERTANAM.”
(Mutiara Amaly vol 119 dengan beberapa perubahan)
Ada juga buat sebagian aktivis da'wah yang menjawab,"Saya akan bahagia ketika saya sudah punya istri yang cantik, sholehah dan rela berjuang di jalan Allah." jawaban yang sangat AMAZING sebenarnya. namun, apa kita menunggu menikah dengan wanita yang memenuhi tiga kriteria di atas dulu baru bahagia??. kalo saja istri yang di dapat tidak sesuai keinginan ia tidak bahagia dunk brarti??.
Mungkin ada yang bilang,"Saya akan bahagia, jika semua yang saya inginkan tercapai." atau mungkin,"Jika saya telah masuk syurga". Sekarang kami ulangi lagi, "Apakan kita harus menunggu semua keinginan kita tercapai atau mati dan masuk syurga baru kita bahagia..??". Ternyata tidak sobat..
Yang bisa membuat kita bahagia adalah ketenangan hati. bila hati tenang, semua beban terasa ringan. Setiap masalah akan terselesaikan dengan izin Allah atau bersabar. Pikiran tidak gundah gulana dan hidup terasa nyaman. Dan "Sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang"...
Sewaktu Ditanya Apakah yang Paling Membingungkan di Dunia ini?Beliau menjawab : "Manusia",
Karena dia "Mengorbankan Kesehatannya" hanya "Demi uang";
Lalu dia "Mengorbankan Uang"nya demi Kesehatan".
Lalu dia "Sangat Khawatir" dengan "Masa Depannya",
sampai' dia "Tidak Menikmati Masa Kini";
Akhirnya dia "Tidak Hidup di Masa Depan atau pun di Masa Kini";
dia "Hidup Seakan-akan Tidak Akan Mati",
lalu dia "Mati" tanpa "Benar-benar Menikmati" apa itu "Hidup".
Bersyukurlah apa yang selama ini kita dapati dan
kita nikmati. Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan terjadi
hari esok.
Ketika lahir dua tangan kita kosong...
ketika meninggal kedua tangan kita juga kosong...
Waktu datang dan waktu pergi kita tidak membawa apa-apa...
Jangan sombong karena kaya dan berkedudukan..
Jangan minder karena miskin dan hina...
Bukankah kita semua hanyalah tamu dan semua milik kita
hanyalah pinjaman...
TETAPLAH SHOLAT BERJAMA'AH seberapapun tinggi kedudukan kita...
TETAPLAH PERCAYA DIRI seberapapun kekurangan kita...
Karena kita hadir tidak membawa apa-apa dan kembali juga
tidak membawa apa-apa...
Hanya pahala kebajikan atau dosa kejahatan yang dapat kita bawa.
Datang ditemani oleh Tangis.....
Pergi juga ditemani oleh Tangis.....
Maka dari itu TETAPLAH BERSYUKUR, dalam segala
keadaan apa pun, dan HIDUPLAH disaat yang benar-benar ada
dan nyata untuk kita, yaitu SAAT INI, bukan dari bayang-bayang
MASA LALU maupun mencemaskan MASA DATANG yang
belum lagi tiba...
Langganan:
Postingan (Atom)

