Awalnya sih biasa saja, entah mulai kapan timbul rasa. Sebelumnya
wajah terasa murung, sekarang bingkai wajahnya senantiasa terhias dengan senyum.
Seakan seluruh dunia membalas senyumannya. Kicauan burung yang bertahmid memuji
Allah seakan sedang berbahagia bersamanya. Ketika melihat teman yang lagi
galau, anda selalu menjadi problem solving penghilang risau.
Saat berjauhan dengan si do’i terasa rindu tak menentu, tapi
bertatap muka malu. Saat jauh senyumannya selalu terbayang dan terngiang, tapi
saat jumpa tak tahu apa harus dibilang. Setiap hari selalu menitip salam kepada
angin, meski anda tahu angin bukanlah postman. Setelah salam dititipkan kepada
angin, anda begitu bahagia seakan si do’i telah menjawabnya.
Namanya juga cinta. Seberapa banyak duri, akan dilaluinya. Seberapa jauh jarak, akan di tempuhnya. Jutaan puisi dan pantun tercipta untuknya. anda tahu bahwa anda adalah pemberani, namun menjadi gugup ketika dihadapkan dengan si do’i.
Begitu indah cinta. Namun salahkah bila kita mencintai? Cinta adalah
fitroh bagi setiap insan yang menganggap dirinya normal. Bahkan sesama muslim
mencintai adalah harus. Pepatah Jawa pernah berkata,”Witing Tresno Jalaran
Soko Kulino”. Artinya, “Datangnya cinta itu karena terbiasa. Terbiasa bertemu
dan terbiasa berkomunikasi.
Sebagai lelaki normal, wajar saja bila hal itu terjadi. Dan yang
tidak normal adalah bila anda tidak bisa mencintai. Jangan takut akan dosa
mencintai, karena ia bukanlah sebuah dosa. Yang dosa adalah ketika kita
mengekspresikannya dengan sesuatu yang tidak tepat. Mengungkapkannya tidak akan
menyembuhkan penyakit rindu yang tertahan, namun menyimpannya adalah suatu
keajaiban ketika cinta itu terealisasikan dengan pernikahan.
Tidak ada yang salah dengan cinta, yang salah adalah ketika kita
salah mengartikan cinta. Dengan pergaulan bebas, antara lelaki dan perempuan
tiada pembatas. Disanalah setan akan beraktivitas. Jika anda sungguh
mencintainya, simpanlah cinta itu sampai dibatas masa. Jika cinta begitu
penting bagi anda, jemputlah ia dengan cara yang diridhoi agama. Namun jika
anda belum saatnya, sop yang mentah tidak akan pernah terasa enak untuk
dimakan.
Cinta adalah anughrah dari Sang Maha Pemberi anugrah. Maka sangat
mustahil Allah menganugrahkan sesuatu yang buruk. Makna cinta itu luas, ia bias
dimaknai dengan potensi maksiat. Namun bias juga di maknai sebagai potensi
ketaatan.
Makna cinta itu luas, maka jangan disempitkan dengan syahwat. Kasih
saying itu terlalu tinggi untuk direndahkan dengan baku maksiat. Islam adalah
ajaran yang mengajarkan cinta kasih. Dari suami kepada istrinya, dari
ayah-bunda kepada anaknya dan cinta seorang muslim kepada muslim lainnya karena
Allah. Islam tidak pernah mengharamkan cinta, namun Islam mengarahkan cinta
pada koridor yang semestinya.
Satu-satunya jalan menjalin cinta lawan jenis adalah dengan
pernikahan. Sialnya, kaum muslim kini hidup dalam kungkungan masyarakat yang
sebagian besar salah kaprah memahami cinta. Kita hidup dalam masyarakat yang
mendewakan kepuasan badani lewat eksploitasi seksual yang mereka kira sebagai
cinta.
Karena hal inilah tidak dikenal lagi kesaklaran Pernikahan
dan Kesucian Diri, apalagi kehormatan dan kemuliaan jiwa. Semuanya sudah
berganti dengan pergaulan bebas. Ada yang menyebutnya pacaran, teman tapi mesra
dengan berbalutkan alas an kakak-adik, teman dekat ataupun yang lainnya.
Sayangnya, semua alasan yang dikemukakan, kelak tiada akan bias
terucap. Karena dihadapan Allah akan bersaksi seluruh anggota tubuh. Meskipun
lisan mengemukakan alasan dan pembenaran. Maka ajarkanlah cinta agar membuat
pemiliknya terhormat, bukan nista yang ditanggung karena terbuai perbuatan terlaknat.
Langganan:
Postingan (Atom)

